Budaya – reaksipress.com – Nilai-nilai luhur budaya Bugis dan Makassar dapat dipahami melalui simbol sederhana berbentuk belah ketupat yang tersusun dari dua segitiga saling berhadapan. Demikian diungkapkan budayawan Maros, Sayyid Danial Assaqqaf Puang Rani, dalam wawancara dengan guru dan pemerhati budaya, Badaruddin Daeng Latte.
Menurut Puang Rani, puncak bagian atas belah ketupat melambangkan Siri’, yakni kehormatan, martabat, dan harga diri yang menjadi landasan utama kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar. Siri’ tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh dua nilai pokok, yaitu Getteng (keteguhan memegang prinsip) dan Werrè’ atau Warani (keberanian mempertahankan kebenaran).
“Orang yang memiliki Siri’ harus teguh dalam pendirian dan berani membela yang benar. Tanpa kedua sifat itu, kehormatan hanya menjadi slogan,” jelas Puang Rani. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan umum dalam tradisi budaya Bugis dan Makassar yang menempatkan siri’ sebagai salah satu fondasi etika sosial.
Pada bagian bawah belah ketupat terdapat nilai Pacce atau Pesse, yang dimaknai sebagai rasa empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap penderitaan sesama. Menurut Puang Rani, Pacce lahir dari perpaduan antara Risa-risa, yaitu kemampuan berpikir, mempertimbangkan, dan merasakan keadaan orang lain, serta Gau, yakni tindakan nyata yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pacce bukan sekadar rasa iba. Ia harus diwujudkan dalam tindakan. Karena itu ada risa-risa sebagai pertimbangan, lalu gau sebagai pelaksanaan,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, kedua segitiga tersebut membentuk satu kesatuan yang utuh. Segitiga atas menggambarkan proses manusia menjaga kehormatan dirinya melalui keteguhan dan keberanian. Sementara segitiga bawah menggambarkan proses manusia membangun kemanusiaannya melalui kebijaksanaan berpikir dan tindakan nyata.
Puang Rani menegaskan bahwa filosofi belah ketupat itu mengajarkan keseimbangan antara martabat dan kemanusiaan. Siri’ menjaga manusia agar tidak kehilangan harga diri, sedangkan Pacce menjaga manusia agar tidak kehilangan rasa kemanusiaan.
“Jika Siri’ menjadi tiang kehormatan, maka Pacce menjadi jiwa yang menghubungkan manusia dengan sesamanya. Keduanya harus berjalan bersama,” katanya.
Badaruddin Daeng Latte menilai bahwa pemaknaan simbolik tersebut dapat menjadi model pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, nilai-nilai Getteng, Werrè’, Risa-risa, Gau, Siri’, dan Pacce tetap relevan sebagai pedoman pembentukan kepribadian masyarakat Sulawesi Selatan.
Filosofi belah ketupat yang dijelaskan Puang Rani pada akhirnya menunjukkan bahwa manusia ideal dalam pandangan budaya Bugis dan Makassar adalah manusia yang teguh dalam prinsip, berani dalam kebenaran, bijaksana dalam pertimbangan, nyata dalam tindakan, menjaga kehormatan diri, serta memiliki kepedulian mendalam terhadap sesama manusia
Penulis : Badaruddin Dg. Latte













