Opini – reaksipress.com – Di tengah lantunan doa dan dzikir yang mengalun khusyuk, hadir sebuah pesan yang menenangkan hati: negara dan ulama berjalan seiring, saling menguatkan, saling menjaga.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama bukan sekadar agenda kenegaraan, melainkan simbol ikatan batin antara kepemimpinan negara dan kebijaksanaan para ulama.
Gambar ini menangkap momen kebersamaan yang sederhana namun bermakna. Senyum, salam, dan gestur hangat mencerminkan hubungan yang dibangun atas dasar saling hormat. Negara hadir dengan kewenangannya, ulama hadir dengan doanya. Keduanya bertemu dalam tujuan yang sama: menjaga persatuan, merawat kedamaian, dan menuntun bangsa agar tetap berpijak pada nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan.
Dalam tradisi NU, mujahadah adalah ikhtiar batin—doa yang dipanjatkan agar langkah bangsa senantiasa berada di jalan yang lurus. Negara pun membutuhkan doa para ulama, sebagaimana ulama memerlukan kehadiran negara untuk menjaga ketertiban dan keadilan.
Hubungan ini bukan soal kekuasaan, melainkan amanah; bukan soal kepentingan sesaat, tetapi tanggung jawab jangka panjang untuk masa depan Indonesia.
Semua berharap sinergi ulama dan negara seperti yang tergambar dalam momen ini terus terawat: sejuk dalam perbedaan, kuat dalam persatuan, dan bijak dalam menghadapi tantangan zaman.
Karena bangsa yang besar bukan hanya dibangun dengan kekuatan, tetapi juga dengan doa dan akhlak.











