Maros – reaksipress.com – Keindahan alam Taman Wisata Alam Bantimurung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, telah lama menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Dikenal dengan julukan “The Kingdom of Butterflies,” kawasan karst ini menawarkan pesona air terjun, gua-gua eksotis, dan keanekaragaman hayati yang memukau. Namun, di tengah pesona alam yang lestari, sebuah perhatian khusus justru tertuju pada sebuah ikon yang seharusnya menyambut para pengunjung di gerbang masuk: patung kera raksasa.
Yayasan Peduli Hukum dan Lingkungan Hidup (PHLH) baru-baru ini menyampaikan sorotannya terhadap kondisi patung kera yang berdiri kokoh di gerbang masuk Taman Wisata Bantimurung (Gerbang Maaung). Menurut PHLH, patung yang seharusnya menjadi simbol ikonik dan daya tarik visual pertama bagi wisatawan itu kini terlihat kurang terawat dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Patung kera ini adalah wajah pertama yang menyambut wisatawan yang datang ke Bantimurung. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan, catnya memudar, terlihat kotor, dan terkesan kurang terurus,” ujar perwakilan PHLH dalam pernyataan resminya, Kamis (4/4/2025). “Sebagai sebuah ikon wisata andalan Kabupaten Maros, seharusnya patung ini mendapatkan perawatan yang layak agar tetap menarik dan memberikan kesan positif bagi para pengunjung.”
PHLH menilai, kurangnya perawatan terhadap patung kera ini tidak hanya mengurangi estetika kawasan wisata, tetapi juga berpotensi memberikan citra negatif terhadap pengelolaan Taman Wisata Alam Bantimurung secara keseluruhan. Padahal, Bantimurung memiliki potensi wisata yang sangat besar dan menjadi salah satu penyumbang pendapatan daerah melalui sektor pariwisata.
“Kami sangat menyayangkan kondisi ini. Pemerintah daerah, melalui dinas terkait, seharusnya lebih peka terhadap detail-detail seperti ini. Perawatan ikon-ikon wisata adalah bagian penting dari upaya kita untuk terus menarik wisatawan dan meningkatkan kualitas pariwisata di Maros,” lanjut perwakilan PHLH.
Lebih lanjut, PHLH menekankan bahwa perhatian terhadap patung kera ini bukan hanya sekadar masalah estetika. Sebagai bagian dari gerbang masuk, patung ini juga memiliki nilai simbolis dalam menyambut dan memberikan kesan pertama yang baik bagi para pengunjung. Kondisi patung yang terawat akan mencerminkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengelola dan mengembangkan potensi wisata yang dimiliki.
“Kami berharap pemerintah Kabupaten Maros segera mengambil tindakan untuk memperbaiki dan merawat patung kera di Gerbang Maaung ini. Ini adalah investasi kecil dengan dampak besar terhadap citra dan daya tarik Taman Wisata Alam Bantimurung,” tegas PHLH.
Sorotan yang disampaikan oleh PHLH ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten Maros untuk segera melakukan evaluasi dan mengambil langkah-langkah konkret dalam memperbaiki dan merawat patung kera di gerbang masuk Taman Wisata Alam Bantimurung. Dengan pengelolaan yang lebih baik dan perhatian terhadap detail, diharapkan Bantimurung akan semakin bersinar dan terus menjadi destinasi wisata unggulan di Sulawesi Selatan.
Selain menyoroti kondisi patung kera, PHLH juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam dan fasilitas pendukung lainnya di kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung agar tetap terjaga dan memberikan pengalaman wisata yang optimal bagi para pengunjung. Sinergi antara pelestarian alam dan perawatan fasilitas wisata menjadi kunci utama dalam mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan.











