Maros – reaksipress.com – Kemarau mulai menggerus sawah-sawah di Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Ketika air irigasi tak lagi cukup menjangkau lahan, petani terpaksa menarik air sungai dari jarak sekitar 600–700 meter menggunakan mesin pompa dan selang panjang.
Di sejumlah lahan, petani harus menggunakan lebih dari satu mesin penyedot dan sambungan selang agar air sungai dapat mencapai tanaman. Biaya bahan bakar, perawatan mesin, pembelian atau sewa selang, serta tenaga untuk memasang dan memindahkan peralatan menjadi beban tambahan di tengah ancaman turunnya produksi.
“Kalau ada mesin dan selang, air sungai masih bisa diupayakan sampai ke sawah. Tapi tidak semua petani punya peralatan. Kami harus menggunakan beberapa mesin dan selang karena jaraknya cukup jauh,” kata seorang warga.
Petani yang memiliki mesin dapat mencoba menyelamatkan tanaman. Mereka yang tidak memiliki peralatan harus bergantung pada bantuan, berbagi mesin, atau berisiko membiarkan sawah mengering.
Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal di banyak wilayah Indonesia. Sebanyak 64,5 persen Zona Musim diperkirakan mengalami musim kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya, sementara 57,2 persen wilayah diprediksi mengalami durasi kemarau lebih panjang dari normal. Puncak kemarau secara luas diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Di Kabupaten Maros, kekeringan telah berdampak pada masyarakat. Pada Juli 2026, BPBD Maros melaporkan sekitar 92 ribu jiwa di tujuh kecamatan terdampak berkurangnya ketersediaan air.
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros yang dikutip RRI pada akhir Agustus mencatat 925 hektare tanaman padi terdampak kekeringan di Kecamatan Tompobulu, dengan sekitar 9 hektare mengalami gagal panen. Untuk jagung, sekitar 924 hektare terdampak dan 425 hektare di antaranya dilaporkan gagal panen.
Angka tersebut berasal dari wilayah lain di Maros, bukan Camba. Namun, ia menunjukkan bahwa kekeringan telah bergerak dari persoalan cuaca menjadi risiko produksi pangan.
Bagi petani Camba, setiap meter selang memiliki konsekuensi. Sumber air yang berjarak ratusan meter berarti kebutuhan mesin lebih besar, konsumsi bahan bakar bertambah, dan waktu kerja meningkat. Petani bukan hanya mempertaruhkan hasil panen, tetapi juga mengeluarkan modal tambahan untuk mempertahankan tanaman yang sudah telanjur ditanam.
Padahal, pemerintah daerah dan instansi teknis sejak awal telah menerima peringatan mengenai potensi kemarau panjang. BMKG bahkan menegaskan bahwa peringatan dini harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk meminimalkan risiko kekeringan.
Jika kemarau berlanjut dan sumber air semakin menyusut, persoalannya bukan lagi sekadar tanaman kekurangan air. Risiko berikutnya adalah gagal panen, pendapatan petani menurun, biaya produksi membengkak, dan pada akhirnya pasokan pangan ikut tertekan.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Maros perlu memastikan penanganan kekeringan tidak berhenti pada pendataan wilayah terdampak. Pemetaan sumber air, luas lahan, kebutuhan pompa, jaringan selang, kelompok tani penerima, serta biaya operasional perlu dilakukan secara terbuka dan terukur
Laporan : AMP













