Opini – Gelombang demonstrasi yang melanda DPR dalam beberapa hari terakhir bukanlah sekadar letupan emosi sesaat. Api di jalanan adalah simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar: suara rakyat yang terlalu lama diabaikan.
Ketika pintu aspirasi terasa tertutup, suara rakyat akhirnya menemukan jalannya sendiri—meledak menjadi amarah kolektif. Aksi yang awalnya dimaksudkan sebagai penyampaian pendapat, berubah menjadi kerusuhan yang merugikan semua pihak. Gedung DPR rusak, fasilitas umum hancur, bahkan nyawa pun melayang.
Namun, menyalahkan hanya satu pihak tidak akan menyelesaikan persoalan. Aparat di lapangan hanyalah pelaksana tugas, masyarakat hanyalah penyalur kekecewaan, dan kerusakan hanyalah akibat dari akar masalah yang tidak pernah diselesaikan: kurangnya komunikasi, lambatnya respons, dan minimnya ruang dialog antara rakyat dan wakilnya.
Rakyat turun ke jalan bukan karena mereka ingin membuat kekacauan, tapi karena jalur formal terasa buntu. DPR sebagai lembaga perwakilan seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok.
Kini, yang dibutuhkan bukan lagi saling tuding siapa yang bersalah, melainkan keberanian untuk duduk bersama. Karena jika aspirasi terus dibiarkan terbakar di jalanan, maka bara ketidakpuasan akan semakin sulit dipadamkan.











