Malam di Maros tidak pernah benar-benar gelap.
Di antara rumah-rumah yang mulai memejamkan lampu, masih ada cahaya bulan yang jatuh di atap seng, menyusup di sela daun pisang, lalu pecah di permukaan sawah yang menghitam. Dari kejauhan, gugusan karst berdiri seperti punggung raksasa yang sedang tidur.
Orang-orang tua menyebut malam semacam itu sebagai malam yang harus dijaga. Malam ketika sesuatu bisa lewat tanpa mengetuk pintu. Malam ketika suara burung bisa terdengar seperti tangisan manusia, dan malam ketika orang-orang di kampung kembali mengingat satu nama yang selama puluhan tahun tak pernah benar-benar mati.
Parakang.
“Jangan keluar.” Suara Nenek Indo Ria terdengar dari dapur. Tubuhnya ringkih
Maya menghentikan langkah. “Kenapa, Nek?”
“Anging-angin.”
“Angin biasa?”
Neneknya tidak menjawab. Ia hanya menutup jendela -Pelan-
“aja musembarang gau?” (Jangan bertingkah sembarangan.)
Maya tersenyum kecil. “Cuma mau ambil air.”
“Besok.”
“Sekarang haus.”
Nenek menatapnya lama.
Maya baru dua puluh tiga tahun. Sejak menikah, ia tinggal bersama suaminya, Arman, di rumah kayu peninggalan keluarga di pinggir kampung. Rumah itu menghadap sawah dan membelakangi bukit-bukit batu.
Sudah dua bulan Maya sering merasa tubuhnya berubah. cepat lelah, mudah mengantuk, dan pagi-pagi, perutnya sering terasa tidak nyaman. Ia belum mengatakan kepada banyak orang – Hanya Arman yang tahu-
“Masih terlalu awal,” kata Arman waktu itu.
Maya mengangguk. Mereka sepakat menyimpannya sementara.
Tetapi kampung kecil selalu memiliki telinga lebih banyak daripada manusia.
Suatu sore, ketika Maya duduk di teras, Indo Ria datang membawa daun-daun obat. Nenek itu memandang Maya, kemudian memandang perutnya.
“Sudah?”
Maya terdiam. “Sudah apa?”
“Jangan bohong sama orang tua.”
Maya menunduk.
Nenek menghela napas. “Jaga diri.”
“Dari apa?”
Nenek tidak segera menjawab. Dari jalan depan rumah terdengar anak-anak berlari sambil berteriak.
“Parakang…Parakang!”
Maya menoleh. “Anak-anak itu.”
Nenek menggeleng. “Jangan dengarkan.”
Namun sejak hari itu, cerita tentang parakang mulai masuk ke dalam tidur Maya. Di kampung Salessu, parakang bukan sekadar hantu. Ia adalah cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Konon, ia dapat melayang pada malam hari. Kadang seperti bayangan. Kadang seperti sesuatu yang tidak memiliki bentuk pasti. Orang-orang tua percaya, parakang mencari manusia tertentu, terutama mereka yang sedang lemah.
Ada pula cerita yang lebih tua, bahwa perempuan muda yang sedang mengandung harus lebih berhati-hati. Bukan karena semua cerita itu benar, tetapi karena ketakutan sering kali tumbuh lebih cepat daripada kebenaran.
Maya mendengar semua cerita itu sejak kecil dan dulu ia menertawakannya , tapi kini ia mulai takut.
Malam ketiga setelah pembicaraan dengan neneknya, Maya terbangun. Pukul dua lewat sedikit -rumah sunyi, Arman tidur di sampingnya dengan pulas – Maya mendengar suara dari luar.
Krek…Krek.
Seperti ranting patah.
Ia duduk.
“Man.”
Arman tidak bergerak.
“Man.”
“Hm?”
“Ada suara.”
“Tidur.”
Maya turun dari tempat tidur.
Ia mendekati jendela, mengintip melalui celah tirai. Di halaman, pohon mangga bergoyang. padahal udara terasa diam.
Kemudian sesuatu bergerak di atas atap rumah tetangga. Maya menahan napas.
Bukan burung. Bukan kelelawar. Bayangan itu melintas sebentar, lalu hilang di balik pohon.
Maya mundur. “Man.”
Arman terbangun. “Apa?”
“Di luar.”
Arman duduk. “Kenapa?”
“Ada sesuatu.”
Ia mengambil lampu senter, keluar bersama ke halaman. Tidak ada apa-apa, hanya suara jangkrik.
Arman mengarahkan cahaya ke atap. “Tidak ada apa-apa.” Ia mengusap lengan Maya
“Aku lihat sesuatu.”
Arman tersenyum. “Bayangan.”
“Bukan.”
“Tidur.”
Maya memandang langit.
“Kalau parakang?”
Arman terdiam,kemudian tertawa kecil.
“Parakang juga takut lampu.”
Besok paginya, kabar datang dari rumah sebelah. Seorang perempuan tua bernama Besse ditemukan pingsan di dapur, tidak ada luka, tidak ada barang hilang, tetapi di jendela belakang rumahnya ditemukan tiga helai daun pisang yang basah.
Orang-orang berkumpul.
“Parakang.”
“Jangan sembarang bicara.”
“Tadi malam ada yang melihat.”
“Di mana?”
“Dekat sungai.”
Maya berdiri di antara mereka. Nenek Indo Ria menarik tangannya.
“Pulang.”
“Tapi—”
“Pulang.”
Mereka berjalan meninggalkan kerumunan.
“Nek.”
“Apa?”
“Benarkah parakang?”
Nenek berhenti.
“Yang paling berbahaya bukan parakang.”
Maya mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Manusia yang ingin dipercaya sebagai parakang.”
Maya terdiam! kalimat itu tinggal di kepalanya sepanjang hari. Malam berikutnya hujan turun, tidak deras. Hanya rintik panjang yang membuat tanah berbau basah.
Arman belum pulang, Maya duduk di ruang depan dengan gelisah. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas. Ponsel Arman tidak aktif.
Kemudian terdengar ketukan.
Tok…Tok…Tok!!!
Maya berdiri.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Tok…Tok…Tok!!!
Ia mendekati pintu.
“Siapa?”
Suara laki-laki terdengar.
“Maya.”
Ia mengenal suara itu.
“Arman?”
“Iye.”
Maya hendak membuka pintu.
Tiba-tiba suara Nenek Indo Ria dari kamar belakang terdengar keras. “Jangan!”
Maya terkejut, Nenek keluar sambil membawa senter.
“Jangan buka.”
“Arman di luar.”
“Bukan.”
Maya memandang pintu.
“Bagaimana Nenek tahu?”
“Dengar.”
Mereka diam.
Dari luar terdengar suara lagi.
“Maya.”
Persis suara Arman.
Namun kali ini lebih pelan.
“Buka.”
Nenek menggenggam tangan Maya. “Jangan.”
Ketukan berhenti, beberapa detik setelahnya, terdengar suara langkah menjauh -Pelan lalu hilang-. Nenek mengunci pintu dengan palang kayu.
“Kenapa?”
“Arman tidak memanggil dari luar.”
“Bagaimana Nenek tahu?”
Nenek memandang Maya.
“Karena Arman punya kebiasaan.”
“Apa?”
“Kalau pulang, dia selalu batuk dua kali sebelum masuk.”
Maya membeku. Dari luar terdengar suara batuk. Maya merasakan bulu kuduknya berdiri. Arman baru pulang hampir tengah malam, Ia datang melalui pintu samping. Wajahnya pucat.
“Kenapa pintu depan dikunci?”
Maya menatapnya.
“Kamu tadi datang?”
“Tidak.”
“Bukan kamu yang mengetuk?”
Arman menggeleng. “Siapa?”
Maya tidak menjawab.
Nenek memandang Arman dari ujung kepala sampai kaki. “Dari mana?”
“Bengkel.”
“Kenapa lama?”
“Motor orang rusak.”
Nenek mengangguk.
“Masuk.”
Arman masuk.
Namun sebelum tidur, Maya bertanya pelan.
“Man.”
“Iya?”
“Kalau suatu malam ada yang menyerupai suaramu?”
Arman tersenyum.
“Jangan dibuka.”
“Kenapa?”
“Karena saya pasti mengetuk tiga kali.”
Maya menatapnya.
“Kenapa?”
Arman mengangkat bahu.
“Biar kamu tahu.”
Malam itu mereka tidur.
Tetapi Maya tidak.
Tiga hari kemudian, hujan berhenti, udara menjadi panas. Kampung Sulessa kembali ramai, kabar tentang parakang semakin banyak. Ada yang mengaku melihat bayangan di atas pohon kelapa. Ada yang mendengar suara perempuan menangis dari sawah. Ada pula yang berkata melihat sesuatu melintas di antara rumah-rumah.
Cerita berubah setiap kali berpindah dari satu mulut ke mulut lain, semakin jauh, semakin besar, semakin menyeramkan dan Maya mulai memahami satu hal, Parakang tidak hanya hidup di malam hari. Ia hidup di dalam cerita. Ia hidup dari ketakutan manusia.
Suatu sore, Maya menemukan sesuatu di bawah tempat tidurnya, sebuah kain tua diikat tali.
Di dalamnya ada foto hitam-putih seorsng perempuan muda
Maya mengenalnya. “ibunya?”
Di belakang foto tertulis dengan tinta yang sudah pudar: “Jangan percaya semua yang dikatakan tentang parakang.”
Maya membaca kalimat itu berulang kali, kemudian ia membawa foto tersebut kepada Nenek Indo Ria.
Wajah nenek berubah. “Dari mana?”
“Di bawah tempat tidur.”
Nenek mengambil foto itu. Tangannya gemetar.
“Kenapa?”
“Siapa yang menulis ini?”
Nenek tidak menjawab.
“Nek.”
“Pulanglah ke kamar.”
“Jawab.”
Nenek menatapnya. “Dulu ibumu juga pernah mendengar cerita yang sama.”
“Cerita tentang parakang?”
“Iye.”
“Apa yang terjadi?”
Nenek memejamkan mata. “Tidak semua cerita berakhir seperti yang orang-orang bilang.”
Malam itu Maya tidak tidur, Ia duduk di teras. Bulan menggantung rendah, sawah berkilau dan di kejauhan, bukit-bukit tampak seperti dinding hitam.
Arman duduk di sampingnya. “Kamu masih takut?”
Maya menggeleng.
“Tidak.”
“Bagus.”
“Aku justru ingin tahu.”
“Tentang apa?”
“Parakang.”
Arman terdiam.
Maya menoleh.
“Kamu pernah melihatnya?”
“Tidak.”
“Kamu percaya?”
Arman tersenyum. “Dulu.”
“Sekarang?”
“Sekarang saya percaya pada manusia.”
Maya memandangnya. “Kenapa?”
“Karena manusia bisa melakukan hal yang lebih aneh daripada cerita.”
Angin bergerak. Daun bambu berdesir, Maya merasakan sesuatu jatuh ke bahunya. Ia menoleh, sebuah daun -tapi daunnya hitam dan basah-
Arman berdiri. “Masuk.”
“Kenapa?”
“Sekarang.”
Nada suaranya berubah. Maya menurut.
Lewat tengah malam. Arman belum tidur, Maya mendengar suara pintu dibuka. Ia bangun, melihat Arman keluar dan mengikutinya dari kejauhan.
Arman berjalan menuju belakang rumah, ke arah kebun. Maya berhenti di balik pohon. Kemudian seseorang muncul dari kegelapan. Mereka berbicara sangat pelan.
“Apa sudah?”
“Belum.”
“Jangan terlambat.”
“Dia mulai curiga.”
“Kalau begitu, malam ini.”
Maya menutup mulut.
Jantungnya berdegup keras.
Apa yang mereka bicarakan?
Siapa yang mereka maksud?
Ia mundur perlahan.
Kakinya menginjak ranting.
Krek.
Arman menoleh. “Maya?”
Maya berlari, masuk ke rumah dan mengunci pintu. Napasnya terengah.
Nenek dan Arman menyusul.
“Maya.”
“Jangan dekat!”
Arman berhenti. “Ada apa?”
“Kalian bohong.”
Nenek diam.
“Kalian bicara apa di belakang rumah?”
Tidak ada jawaban.
Maya menangis. “Siapa yang kalian maksud?”
Arman menunduk. Nenek duduk -cukup lama-
Kemudian berkata:
“Sudah waktunya.”
Nenek mengambil kotak kayu kecil, dibukanya perlahan lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas tua.
“Ini catatan ibumu.”
Maya mengambilnya. Ia membaca tulisan tangan itu milik ibunya. Tentang sebuah ketakutan. Tentang seorang perempuan yang dulu dituduh sebagai parakang. Tentang malam ketika seorang perempuan muda menghilang dari kampung. Tentang fitnah yang menyebar lebih cepat daripada kebenaran, dan tentang satu rahasia keluarga.
Maya membaca sampai halaman terakhir. Di sana tertulis:
“Parakang tidak selalu makhluk. Kadang ia adalah nama yang diberikan kepada orang yang ingin disingkirkan.”
Maya menatap nenek.
“Siapa yang disingkirkan?”
Nenek tidak menjawab.
Maya membalik halaman terakhir. Ada satu nama dan nama itu membuat tubuhnya kaku – nama ibunya-
“Tidak mungkin.”
Nenek menangis. “Dulu ibumu dituduh.”
“Kenapa?”
“Karena dia berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Dia tidak mau mengikuti kemauan orang-orang.”
Maya menggeleng.
“Lalu?”
“Suatu malam, dia pergi.”
“Ke mana?”
“Tidak ada yang tahu.”
Maya menatap Arman.
“Dan kamu tahu?”
Arman tidak menjawab.
“Man?”
Ia tetap diam.
Maya mundur.
“Dari awal kamu tahu?”
Arman akhirnya berkata:
“Sebagian.”
“Sebagian apa?”
“Bahwa ibumu mungkin masih hidup.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Maya menatapnya.
“Di mana?”
Arman menunjuk ke arah bukit.
“Di sana.”
Mereka pergi sebelum subuh. Maya dan Arman menyusuri jalan setapak menuju bukit, kabut tipis menggantung di antara pohon. tidak ada suara selain langkah mereka dan Nenek tetap di rumah.
Setelah hampir satu jam, mereka menemukan sebuah rumah kecil tua dan terpencil. Pintunya terbuka.
Arman berhenti.
“Masuk.”
Maya ragu. Kemudian melangkah ke dalam ruang yang hanya ada satu kursi, satu meja, dan sebuah lampu minyak.
Seorang perempuan tua duduk membelakangi mereka, rambutnya Panjang, tubuhnya kurusnya mengerjap-ngerjap dalam semburat cahaya lampu minyak.
Maya menahan napas. Perempuan itu berbicara.
“Sudah besar.”
Maya mengenal suara itu. Suara yang hanya tersisa dalam ingatannya dari masa kanak-kanak.
“Ibu?”
Perempuan itu berbalik.
Maya menangis.
“Ibu?”
Perempuan itu tersenyum. “Anakku.”
“Kenapa Ibu pergi?”
Perempuan itu menatap Arman. “Dia belum cerita?”
Maya menoleh. “Cerita apa?”
Perempuan itu berkata pelan: “Dulu, orang-orang menuduh Ibu parakang.”
“Kenapa?”
“Karena ada beberapa orang sakit setelah bertemu Ibu.”
Maya terdiam. “Tapi Ibu tidak pernah menyakiti mereka.”
“Ketakutan membutuhkan seseorang untuk disalahkan.”
Maya menunduk. Perempuan itu menyentuh wajah anaknya.
“Makanya Ibu pergi.”
“Kenapa tidak pulang?”
“Karena mereka akan membunuh Ibu.”
Maya membeku, Arman menunduk.
Perempuan itu melanjutkan:
“Tapi ada satu hal yang tidak pernah Ibu ceritakan.”
“Apa?”
“Parakang yang kalian cari selama ini memang ada.”
Maya menatapnya. “Siapa?”
Perempuan itu menunjuk! Maya perlahan menoleh.
Maya mundur. “Man?”
Arman menatapnya, kemudian tersenyum. Bukan senyum yang biasa Maya kenal.
“Maaf.”
Maya menggigil. Perempuan tua itu berdiri.
“Dia bukan suamimu.”
Maya memandang Arman. “Siapa kamu?”
Laki-laki itu tidak menjawab. Di luar rumah, terdengar suara kepakan sesuatu. Sekali, dua kali lalu tiga kali. Maya memandang jendela, bayangan besar melintas di dinding tapi bukan Arman.
Perempuan tua itu menarik Maya ke belakang. “Jangan lihat.”
Maya menutup mata. Beberapa detik kemudian semuanya kembali sunyi. ketika membuka mata, Arman sudah tidak ada. Pintu terbuka dan angin masuk dengan hawa aneh.
Perempuan tua itu berkata: “Sekarang kamu tahu.”
Maya gemetar. “Tahu apa?”
Bahwa selama ini ia tidak sedang dikejar parakang. Ia sedang hidup bersama seseorang yang memakai ketakutan kampung sebagai topeng.
Pagi datang perlahan, ketika Maya kembali ke kampung, orang-orang sudah berkumpul di depan rumah Nenek Indo Ria. Arman tidak pernah ditemukan, tidak ada seorang pun tahu ke mana ia pergi.
Nenek hanya berkata satu kalimat:
“Cerita lama selesai.”
Tetapi Maya tahu, cerita itu belum selesai. Sebab malam berikutnya, ketika semua orang tidur, seorang anak kecil yang sedang bermain di halaman melihat sesuatu melintas di atas atap. Ia berlari masuk.
“Nek!”
“Apa?”
“Parakang!”
Nenek keluar. Menatap langit yang kosong, hanya bulan dan perempuan yang berdiri di ujung pematang.
Maya. Ia sedang memandang rumahnya sendiri. ditangannya ada foto lama ibunya.
Nenek mendekat. “Kamu belum tidur?”
Maya tersenyum. “Belum.”
“Kamu melihat apa?”
Maya menunjuk ke langit.
Nenek menatapnya. “Pulang.”
Maya tidak bergerak. Kemudian ia berkata pelan:
“De’gaga elo kupuada.” (Aku tidak ingin mengatakannya.)
Nenek mengerutkan kening.“Mengatakan apa?”
Maya menatap langit sekali lagi, lalu tersenyum.
“Bahwa ternyata Ibu benar.”
Maya berbalik. Di belakangnya, bayangan tubuhnya jatuh ke tanah. Tetapi bayangan itu tidak mengikuti gerakannya, bayangan itu tetap berdiri.
Nenek membeku, Maya berjalan menjauh, bayangannya masih tinggal, kemudian perlahan terangkat dari tanah, melayang menuju atap rumah.
Nenek menutup mulut. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu apakah harus berdoa atau berlari. Dari kejauhan terdengar suara Maya.
“Parakang bukan siapa yang kalian kira.”
Bayangan di atas rumah bergerak. Lalu menghilang ditelan malam dan semenjak malam itu, orang-orang kampung berhenti menyebut nama parakang. Bukan karena mereka tidak percaya, tetapi karena mereka mulai takut pada satu kemungkinan lain:
barangkali parakang memang pernah hidup diantara mereka – dan selama ini mereka sendiri yang memilih siapa yang harus disebut sebagai ‘parakang’ –
Penulis : redaksi
Nb; persamaan nama, tempat dalam cerita adalah sesuatu yang tidak disengaja!













