Pangkep – reaksipress.com – Misi kemanusiaan menuju Pulau Sarappo, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, berujung tragedi. Kapal Layar Motor (KLM) Fitri Jaya yang mengangkut rombongan tenaga medis dan relawan tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 11.00 WITA ini merenggut satu nyawa, sementara delapan orang lainnya berhasil diselamatkan setelah sempat terombang-ambing di perairan terbuka.
KLM Fitri Jaya, kapal kayu milik Daeng Nasru, bertolak dari dermaga Sungai Pangkajene pada pukul 08.45 WITA. Langit yang semula berawan tipis berubah mencekam saat kapal memasuki wilayah perairan terbuka. Hujan deras yang disertai angin kencang—khas puncak musim hujan di Sulawesi Selatan—membuat stabilitas kapal goyah.
Data Stasiun Meteorologi Maritim Paotere Makassar menunjukkan bahwa pada hari kejadian, wilayah perairan Spermonde memang sedang dipayungi awan Cumulonimbus yang memicu angin kencang mendadak (squall) dengan kecepatan hingga 25 knot. Kondisi ini memicu tinggi gelombang mencapai 1,5 hingga 2,5 meter.
“Kapal terbalik total karena cuaca buruk. Beruntung warga Pulau Sarappo Lompo bergerak cepat melakukan evakuasi saat melihat kapal oleng,” ujar Andi Sultan, saksi mata di lokasi kejadian.
Rombongan yang berada di atas kapal merupakan gabungan dari tim medis dan relawan Dompet Dhuafa yang sedang menjalankan misi kesehatan ke pulau-pulau terpencil. Berdasarkan data yang dihimpun, satu orang relawan dilaporkan meninggal dunia (identitas dalam proses konfirmasi keluarga).
Adapun delapan orang yang berhasil diselamatkan adalah:
- Andi Mappasallang, Etty Permatasari, Siti Patimah, Nurlina, dan Wulan Cahya (Tim Relawan).
- drg. Nova dan Kepala Puskesmas Samiang (Tim Medis).
- Awak Kapal (Termasuk pemilik kapal, Daeng Nasru).
Kepala Pelaksana BPBD Pangkep menyatakan bahwa seluruh korban telah berada di Pulau Sarappo. “Fokus kami saat ini adalah pemulangan jenazah ke Pangkajene untuk selanjutnya dibawa ke Makassar, serta memastikan kondisi psikologis relawan yang selamat,” ungkapnya.
Pihak otoritas pelayaran (KSOP) kembali mengimbau agar kapal-kapal nelayan dan kapal motor berukuran kecil menunda pelayaran jika melihat awan gelap pekat di cakrawala, mengingat kondisi laut di Selat Makassar bagian selatan yang sulit diprediksi sepanjang Desember ini.
Hingga berita ini diturunkan, bantuan medis lanjutan dan logistik darurat telah dikirimkan ke Pulau Sarappo untuk menangani para korban selamat sebelum mereka dipulangkan ke daratan utama.











