Halmahera -reaksipres.com – Pagi itu, di salah satu sudut Halmahera, enam pemuda berdiri berjajar. Wajah mereka tak terlihat. Yang tampak hanya topeng kertas bermotif ekspresif berwarna hitam, putih, dan merah—menutup rupa, menyembunyikan siapa mereka sebenarnya. Tapi justru dari balik topeng itulah, sebuah pesan tentang kebersamaan mulai bercerita.
Inilah Cokoiba, tradisi bertopeng yang setiap tahun hadir menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Maluku Utara. Bukan sekadar pertunjukan, Cokoiba adalah cara masyarakat Halmahera merayakan cinta kepada Rasulullah lewat jalan yang tak biasa: seni, simbol, dan kerja bersama.
Ada alasan mengapa para pemuda ini memilih menutup wajah, bukan menampilkannya.
Topeng, dalam tradisi Cokoiba, bukan alat untuk bersembunyi—melainkan cara untuk melepaskan. Ia menanggalkan identitas diri, status sosial, dan segala label yang biasa melekat pada seseorang. Ketika wajah tertutup, yang tersisa hanyalah manusia dalam bentuk paling sederhana: setara satu sama lain.
Filosofi ini terasa pas dengan semangat Maulid itu sendiri. Di hadapan Sang Pencipta, dan dalam upaya meneladani Rasulullah, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua berdiri sejajar, tanpa sekat ego yang biasanya diam-diam ikut dibawa ke mana-mana.
Yang menarik, balutan yang dikenakan para pemuda ini juga bukan sekadar putih polos dan jubah tradisional. Ada syal solidaritas—atribut yang terasa modern—yang justru menyatu rapi dengan pakaian khas itu. Perpaduan ini seolah menjadi pengingat kecil: Halmahera terbuka pada nilai-nilai kemanusiaan yang lebih luas, tanpa harus mencabut akar budayanya sendiri.
Cokoiba tidak datang untuk mengganggu, apalagi mengaburkan, ajaran agama. Justru sebaliknya—tradisi ini tumbuh menjadi jembatan yang merangkul semua kalangan.
Arak-arakan Cokoiba biasa terlihat di pelataran masjid, menyusuri lorong-lorong desa, disambut oleh warga dari berbagai usia. Anak-anak berlarian mengikuti rombongan, orang dewasa berdiri di depan rumah sambil tersenyum, dan suasana syiar pun terasa lebih hidup, lebih ramah, lebih dekat dengan keseharian masyarakat.
Di balik kemeriahan itu, ada proses panjang yang jarang terlihat: warga berkumpul, merancang topeng bersama-sama, menyiapkan kostum, hingga menentukan rute arak-arakan. Semua dikerjakan secara gotong royong. Tak ada yang bekerja sendiri, karena Cokoiba memang lahir dari semangat kolaborasi komunal—bukti bahwa spiritualitas juga bisa dirayakan lewat kerja bersama, bukan cuma lewat doa yang dipanjatkan sendiri-sendiri.
Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus tradisi lokal, Cokoiba justru membuktikan sesuatu yang berharga: identitas budaya dan nilai keislaman bisa berjalan beriringan, saling menghidupkan, bukan saling meniadakan.
Merawat tradisi ini bukan sekadar soal nostalgia atau menjaga warisan leluhur semata. Ini adalah langkah untuk memastikan bahwa keberagaman cara masyarakat mengekspresikan rasa syukur dan cinta kepada Nabi tetap punya tempat—dan justru dari keberagaman itulah, khazanah kebudayaan Islam di Indonesia menjadi semakin kaya.
Di Halmahera, di balik topeng hitam-putih-merah itu, tersimpan cerita tentang bagaimana sebuah komunitas kecil terus menjaga harmoni: antara adat dan agama, antara masa lalu dan masa kini, antara satu wajah yang tersembunyi dengan ribuan wajah lain yang bersatu dalam kebersamaan.













