Feature – reaksipress.com – Di Maros, musim kemarau rupanya punya cara sendiri mengajari manusia tentang kesabaran. Ia datang tanpa mengetuk pintu, lalu perlahan mengeringkan sungai, menurunkan debit sumur, dan meninggalkan tanah pertanian dengan wajah pecah-pecah seperti bibir orang yang terlalu lama menunggu kabar baik.
Di sebuah hamparan lahan, tanaman kacang hijau berdiri dalam diam. Daunnya tak banyak bicara. Batangnya pun tak mengeluh. Tetapi dari tanah yang kehilangan kelembapan, terlihat jelas sebuah pertanyaan sederhana: sampai kapan kehidupan bisa tumbuh tanpa air?
Bagi petani, pertanyaan itu bukan perkara teori. Itu soal dapur yang harus tetap mengepul, anak yang harus tetap sekolah, dan utang yang tak mengenal musim.
Kemarau panjang kali ini membuat petani kacang hijau di Maros harus menghitung sesuatu yang selama ini tak pernah masuk kalkulator: berapa lama tanaman bisa bertahan jika air semakin sulit dicari?
Air sungai menyusut. Sumur ikut kehilangan kemurahan hatinya. Saluran irigasi yang biasanya menjadi jalan keluar kini tak lebih dari jalur kenangan—pernah dialiri air, tetapi kini hanya menyisakan dasar yang kering.
Petani pun mencoba sebisanya. Air dicari, dialirkan, ditunggu. Namun ada batas ketika ikhtiar manusia berhadapan dengan alam yang sedang keras kepala.
“Kondisi alam saat ini memang sangat menantang. Sebagai petani, kami sudah berikhtiar sebisanya, tapi jika air sudah benar-benar kering, tidak ada cara lain selain bersabar dan berdoa kepada Sang Pencipta,” ujar seorang petani dengan nada tenang.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi orang yang hidupnya bergantung pada tanah, doa bukan sekadar rangkaian kata setelah usaha berakhir. Doa adalah cara terakhir untuk menjaga kewarasan ketika pompa tak lagi menemukan air dan langit seperti lupa caranya menangis.
Manusia diminta menjaga ketahanan pangan, sementara petani yang menjadi ujung tombaknya justru harus bernegosiasi dengan cuaca. Kita ingin kacang hijau tersedia di pasar, harga pangan tetap terkendali, dan produksi pertanian berjalan. Namun di balik angka-angka itu ada petani yang menatap langit berkali-kali sehari.
Barangkali langit adalah satu-satunya “kantor” yang tak pernah bisa didatangi untuk mengajukan surat permohonan.
Tidak ada loket pengaduan. Tidak ada nomor antrean. Tidak ada pejabat yang bisa dipanggil ketika hujan terlambat datang.
Yang ada hanya tanah, benih, keringat, dan harapan.
Di tengah situasi tersebut, kekeringan mestinya tidak hanya dibaca sebagai cerita tentang hujan yang belum turun. Ia adalah alarm tentang kesiapan daerah menghadapi perubahan cuaca dan risiko terhadap ketahanan pangan.
Ketika debit air menurun, persoalannya bukan semata tanaman yang layu. Yang ikut terancam adalah pendapatan petani, keberlanjutan usaha tani, dan pada akhirnya rantai pasok pangan masyarakat.
Karena itu, doa tentu penting. Tetapi petani juga membutuhkan sesuatu yang lebih nyata: sistem pengelolaan air yang tangguh, mitigasi kekeringan, dukungan sarana pertanian, serta intervensi pemerintah ketika kondisi mulai memasuki wilayah krisis.
Sebab terlalu lama meminta petani bersabar juga bukan bentuk kebijakan.
Petani boleh tabah, tetapi pemerintah tidak boleh hanya ikut tabah.
Di Maros, harapan kini sederhana. Bukan hujan emas, bukan panen berlimpah tanpa risiko. Mereka hanya ingin air kembali menemukan jalan menuju ladang.
Sebab bagi petani kacang hijau, hujan bukan sekadar perubahan cuaca.
Ia adalah kabar bahwa kehidupan masih diberi kesempatan untuk tumbuh.
Dan sementara langit belum juga menurunkan jawabannya, para petani tetap berdiri di antara tanah kering dan tanaman yang menunggu. Mereka menanam dengan tangan, bertahan dengan hati, dan untuk sementara—menitipkan sebagian nasibnya kepada doa.
Barangkali begitulah wajah keteguhan yang sebenarnya: bukan tidak takut gagal, melainkan tetap berharap meski tanah di bawah kaki perlahan kehilangan air.













