PTB Maros, Riuh yang Mencari Jalan Pulang

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Feature – reaksipress.com – Malam di Pantai Tak Berombak (PTB) Maros tak selalu seramai namanya.

Lampu-lampu hias masih menyala. Deretan kursi dan meja tetap tertata. Tenda-tenda pedagang berdiri seperti biasa. Namun, pada Kamis malam, 20 Agustus 2026, sekitar pukul 22.43 WITA, suasana kawasan kuliner di titik Pettarani-Pettuadae itu terasa lebih lengang.

Beberapa lapak masih menunggu pelanggan. Sebagian pedagang hanya duduk berbincang sembari sesekali memandang ke arah jalan. Aroma makanan yang biasanya bercampur dengan suara percakapan pengunjung malam, kali ini tak sepadat yang pernah mereka rasakan.

PTB Maros sedang mencari kembali denyut keramaiannya.

Kawasan ini pernah menjadi salah satu ruang kuliner yang ramai diperbincangkan. Bagi warga Maros, PTB bukan sekadar tempat makan. Ia pernah menjadi ruang bertemu, tempat keluarga menghabiskan malam, anak muda berkumpul, dan pedagang kecil menggantungkan penghasilan.

Kini, cerita itu menghadapi babak berbeda.

Ketika Keramaian Berubah Menjadi Perhitungan

Pada masa ketika akhir pekan menjadi waktu paling ditunggu, satu lapak bisa mengantongi omzet sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta dalam semalam. Angka itu menjadi gambaran betapa kuatnya perputaran ekonomi di kawasan tersebut.

Kini kondisinya berbeda! Omzet pedagang pada malam Minggu disebut berada di kisaran Rp500 ribu. Bahkan pada hari kerja, sebagian pedagang tak jarang harus menutup lapak tanpa membawa pulang hasil transaksi.

Bagi pedagang kecil, penurunan itu bukan sekadar angka dalam buku catatan. Ia berarti berkurangnya uang belanja keluarga, biaya pendidikan anak, modal untuk berjualan kembali, hingga kemampuan mempertahankan usaha.

Namun, menyebut PTB kehilangan daya tarik sepenuhnya juga terlalu sederhana.

Maros berkembang. Pilihan masyarakat bertambah.

Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai ruang publik dan tempat nongkrong baru bermunculan di sejumlah sudut Maros.

Masyarakat kini memiliki banyak pilihan untuk menghabiskan waktu: kedai kopi, ruang terbuka, tempat makan, hingga titik kumpul yang menawarkan suasana berbeda.

Perubahan itu adalah konsekuensi dari kota yang tumbuh.

Tetapi bagi kawasan kuliner yang pernah menjadi pusat keramaian, munculnya banyak titik kumpul sekaligus membawa tantangan. Pengunjung yang dahulu terkonsentrasi di PTB kini tersebar ke berbagai lokasi.

Di sinilah PTB menghadapi pekerjaan rumah: bagaimana membuat orang kembali datang bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena memang memilih PTB.

Modalnya Sebenarnya Masih Ada, Jika dilihat dari kondisi fisik, PTB belum kehilangan seluruh modalnya.

Kawasan ini relatif bersih. Penerangan tersedia. Tempat duduk tertata. Pedagang masih bertahan. Lokasinya pun telah memiliki nama dan ingatan kolektif di tengah masyarakat Maros. Yang mungkin hilang bukan tempatnya, melainkan alasan orang untuk kembali.

Karena itu, revitalisasi tidak selalu berarti membangun sesuatu yang baru dari awal. Bisa jadi, yang dibutuhkan adalah memperbarui pengalaman.

PTB dapat dikembangkan sebagai ruang kuliner yang memiliki identitas khas Maros. Agenda seni dan budaya secara berkala, promosi berbasis komunitas, penataan visual kawasan, hingga festival kuliner lokal bisa menjadi bagian dari upaya tersebut.

Pedagang juga dapat dilibatkan bukan sekadar sebagai penerima kebijakan, tetapi sebagai bagian dari perancang masa depan kawasan.

Sebab mereka yang setiap malam berada di sana adalah orang-orang yang paling tahu kapan PTB ramai, kapan pengunjung datang, makanan apa yang dicari, dan mengapa sebagian pelanggan memilih tidak kembali.

Persoalan PTB pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak kursi yang terisi.

Ini tentang bagaimana sebuah ruang publik mempertahankan relevansinya ketika kota terus berubah.

Pemerintah daerah membutuhkan tata ruang yang mampu memberikan ruang bagi tumbuhnya berbagai pusat ekonomi baru tanpa membuat kawasan lama kehilangan fungsi. Setiap ruang publik idealnya memiliki karakter dan segmen yang jelas, sehingga pertumbuhan tidak berujung pada saling mematikan.

Di sisi lain, para pedagang juga dituntut beradaptasi. Selera konsumen berubah, pola nongkrong bergeser, dan promosi kini tak lagi cukup mengandalkan lokasi strategis.

PTB membutuhkan cerita baru. Bukan untuk menghapus masa lalunya sebagai ikon kuliner, melainkan untuk menjadikannya modal memasuki masa depan.

Pada Kamis malam itu, ketika jarum jam mendekati pukul 23.00 WITA, lampu-lampu PTB masih menyala. Beberapa pedagang tetap bertahan di balik lapaknya, menunggu kemungkinan datangnya pelanggan terakhir.

Di tengah kesunyian itu, PTB seperti sedang mengingat kembali masa ketika kawasan tersebut menjadi salah satu jantung malam Maros.

Kini pertanyaannya bukan apakah PTB masih bisa ramai.

Pertanyaannya: apa yang harus dilakukan agar keramaiannya kembali memiliki alasan?

Jawabannya mungkin berada pada satu hal sederhana: kolaborasi.

Pemerintah menata, pedagang berinovasi, komunitas menghidupkan ruang, dan masyarakat kembali diberi alasan untuk datang.

Jika itu terjadi, PTB tak harus kembali persis seperti masa kejayaannya.

Ia cukup menemukan bentuk baru—tetap menjadi ruang kuliner, ruang perjumpaan, dan ruang ekonomi bagi mereka yang menggantungkan hidup dari aroma makanan di bawah cahaya lampu malam Maros.

PTB Maros, Riuh yang Mencari Jalan Pulang

Feature – reaksipress.com – Malam di Pantai Tak Berombak (PTB) Maros tak selalu seramai namanya.

Lampu-lampu hias masih menyala. Deretan kursi dan meja tetap tertata. Tenda-tenda pedagang berdiri seperti biasa. Namun, pada Kamis malam, 20 Agustus 2026, sekitar pukul 22.43 WITA, suasana kawasan kuliner di titik Pettarani-Pettuadae itu terasa lebih lengang.

Beberapa lapak masih menunggu pelanggan. Sebagian pedagang hanya duduk berbincang sembari sesekali memandang ke arah jalan. Aroma makanan yang biasanya bercampur dengan suara percakapan pengunjung malam, kali ini tak sepadat yang pernah mereka rasakan.

PTB Maros sedang mencari kembali denyut keramaiannya.

Kawasan ini pernah menjadi salah satu ruang kuliner yang ramai diperbincangkan. Bagi warga Maros, PTB bukan sekadar tempat makan. Ia pernah menjadi ruang bertemu, tempat keluarga menghabiskan malam, anak muda berkumpul, dan pedagang kecil menggantungkan penghasilan.

Kini, cerita itu menghadapi babak berbeda.

Ketika Keramaian Berubah Menjadi Perhitungan

Pada masa ketika akhir pekan menjadi waktu paling ditunggu, satu lapak bisa mengantongi omzet sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta dalam semalam. Angka itu menjadi gambaran betapa kuatnya perputaran ekonomi di kawasan tersebut.

Kini kondisinya berbeda! Omzet pedagang pada malam Minggu disebut berada di kisaran Rp500 ribu. Bahkan pada hari kerja, sebagian pedagang tak jarang harus menutup lapak tanpa membawa pulang hasil transaksi.

Bagi pedagang kecil, penurunan itu bukan sekadar angka dalam buku catatan. Ia berarti berkurangnya uang belanja keluarga, biaya pendidikan anak, modal untuk berjualan kembali, hingga kemampuan mempertahankan usaha.

Namun, menyebut PTB kehilangan daya tarik sepenuhnya juga terlalu sederhana.

Maros berkembang. Pilihan masyarakat bertambah.

Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai ruang publik dan tempat nongkrong baru bermunculan di sejumlah sudut Maros.

Masyarakat kini memiliki banyak pilihan untuk menghabiskan waktu: kedai kopi, ruang terbuka, tempat makan, hingga titik kumpul yang menawarkan suasana berbeda.

Perubahan itu adalah konsekuensi dari kota yang tumbuh.

Tetapi bagi kawasan kuliner yang pernah menjadi pusat keramaian, munculnya banyak titik kumpul sekaligus membawa tantangan. Pengunjung yang dahulu terkonsentrasi di PTB kini tersebar ke berbagai lokasi.

Di sinilah PTB menghadapi pekerjaan rumah: bagaimana membuat orang kembali datang bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena memang memilih PTB.

Modalnya Sebenarnya Masih Ada, Jika dilihat dari kondisi fisik, PTB belum kehilangan seluruh modalnya.

Kawasan ini relatif bersih. Penerangan tersedia. Tempat duduk tertata. Pedagang masih bertahan. Lokasinya pun telah memiliki nama dan ingatan kolektif di tengah masyarakat Maros. Yang mungkin hilang bukan tempatnya, melainkan alasan orang untuk kembali.

Karena itu, revitalisasi tidak selalu berarti membangun sesuatu yang baru dari awal. Bisa jadi, yang dibutuhkan adalah memperbarui pengalaman.

PTB dapat dikembangkan sebagai ruang kuliner yang memiliki identitas khas Maros. Agenda seni dan budaya secara berkala, promosi berbasis komunitas, penataan visual kawasan, hingga festival kuliner lokal bisa menjadi bagian dari upaya tersebut.

Pedagang juga dapat dilibatkan bukan sekadar sebagai penerima kebijakan, tetapi sebagai bagian dari perancang masa depan kawasan.

Sebab mereka yang setiap malam berada di sana adalah orang-orang yang paling tahu kapan PTB ramai, kapan pengunjung datang, makanan apa yang dicari, dan mengapa sebagian pelanggan memilih tidak kembali.

Persoalan PTB pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak kursi yang terisi.

Ini tentang bagaimana sebuah ruang publik mempertahankan relevansinya ketika kota terus berubah.

Pemerintah daerah membutuhkan tata ruang yang mampu memberikan ruang bagi tumbuhnya berbagai pusat ekonomi baru tanpa membuat kawasan lama kehilangan fungsi. Setiap ruang publik idealnya memiliki karakter dan segmen yang jelas, sehingga pertumbuhan tidak berujung pada saling mematikan.

Di sisi lain, para pedagang juga dituntut beradaptasi. Selera konsumen berubah, pola nongkrong bergeser, dan promosi kini tak lagi cukup mengandalkan lokasi strategis.

PTB membutuhkan cerita baru. Bukan untuk menghapus masa lalunya sebagai ikon kuliner, melainkan untuk menjadikannya modal memasuki masa depan.

Pada Kamis malam itu, ketika jarum jam mendekati pukul 23.00 WITA, lampu-lampu PTB masih menyala. Beberapa pedagang tetap bertahan di balik lapaknya, menunggu kemungkinan datangnya pelanggan terakhir.

Di tengah kesunyian itu, PTB seperti sedang mengingat kembali masa ketika kawasan tersebut menjadi salah satu jantung malam Maros.

Kini pertanyaannya bukan apakah PTB masih bisa ramai.

Pertanyaannya: apa yang harus dilakukan agar keramaiannya kembali memiliki alasan?

Jawabannya mungkin berada pada satu hal sederhana: kolaborasi.

Pemerintah menata, pedagang berinovasi, komunitas menghidupkan ruang, dan masyarakat kembali diberi alasan untuk datang.

Jika itu terjadi, PTB tak harus kembali persis seperti masa kejayaannya.

Ia cukup menemukan bentuk baru—tetap menjadi ruang kuliner, ruang perjumpaan, dan ruang ekonomi bagi mereka yang menggantungkan hidup dari aroma makanan di bawah cahaya lampu malam Maros.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Sedang Populer

Populer Pekan Ini

Jelang 17 Agustus, Makassar Perketat Pengamanan: Geng Motor hingga Hoaks Jadi Sorotan

Makassar – reaksipress.com - Pemerintah Kota Makassar memperketat mitigasi...

Pagar TPI Maros Dibobol, Aktivitas PKL Ganggu Jalur Operasional

Maros – reaksipress.com - Dugaan pembobolan pagar di kompleks...

Gudang PT Sang Hyang Seri Ludes Terbakar, 30 Ton Benih dan Dua Mobil Ikut Hangus

Maros – reaksipress.com - Kobaran api menghanguskan sebuah gudang...

Guru PPPK Ditarik ke Pusat

Jakarta – reaksipress.com - Status kepegawaian guru Pegawai Pemerintah...

Camat Weda Selatan Pimpin Upacara HUT RI ke-81

Weda Selatan – reaksipress.com - Lapangan Utama Weda Selatan...

Exclusive News

Jembatan Rusak Parah, Abel Minta Pemerintah Maros Untuk Peduli

Maros - reaksipress.com - Jembatan yang menghubungkan dua desa...

Huntap Talise Palu: Menikmati Kuliner dari Ketinggian

Sulteng  - reaksipress.com - Kawasan Huntap (Hunian Tetap) Talise...

Dihadiri Tokoh Nasional dan Daerah, Pengurus PORDI Maros Resmi Dilantik

Maros, reaksipress.com – Dalam suasana penuh khidmat, Pengurus Perkumpulan...
spot_imgspot_img

Rekomendasi

Kejahatan Lingkungan

Korupsi

Pengangguran

Pendidikan

Kuliner & Travel

Kuliner & Travel

ReaksiNews

Polres Maros Siapkan 1 Hektare Lahan, Genjot Swasembada Bawang Putih

Maros – reaksipress.com - Polres Maros ambil peran aktif...

Sertijab Digelar, Desa Sosowomo Masuki Babak Baru

Weda Selatan – reaksipress.com - Pemerintahan Desa Sosowomo, Kecamatan...

Guru PPPK Ditarik ke Pusat

Jakarta – reaksipress.com - Status kepegawaian guru Pegawai Pemerintah...

BEM UI Dicegat, Delapan Tuntutan Tetap Melaju

Jakarta – reaksipress.com - Sehari setelah Indonesia merayakan 81...

‘Solar Subsidi’ Macetkan Jalan di Poros Makassar-Maros

Maros – reaksipress.com - Antrean panjang truk di sejumlah...

Gudang PT Sang Hyang Seri Ludes Terbakar, 30 Ton Benih dan Dua Mobil Ikut Hangus

Maros – reaksipress.com - Kobaran api menghanguskan sebuah gudang...