Weda Tengah – reaksipress.com – Lapangan SMK Negeri 2 Halmahera Tengah dipenuhi ratusan anggota Pramuka dan siswa OSIS pada Jumat pagi, 14 Agustus 2026. Upacara peringatan Hari Pramuka ke-65 berlangsung khidmat. Namun, satu kursi penting tak terisi: Bupati Halmahera Tengah yang semula dijadwalkan menjadi pembina upacara.
Kegiatan yang digelar Gugus Depan Lagae-Cekel itu berlangsung sejak 11 hingga 14 Agustus 2026, sekaligus dirangkaikan dengan Penerimaan Tamu Ambalan (PTA). Tahun ini panitia mengangkat tema, “Menempa Karakter Calon Penegak yang Berjiwa Pancasila, Disiplin, dan Berbudi Luhur.”
Tema tersebut bukan sekadar slogan seremonial. Gerakan Pramuka diharapkan menjadi ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, sekaligus nasionalisme generasi muda di Halmahera Tengah.
Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus) SMKN 2 Halteng, Asdar, S.Pd.I., mengatakan momentum tersebut diharapkan melahirkan kader Pramuka yang unggul, disiplin dan berbudi luhur.
“Kami berharap momentum ini melahirkan kader Pramuka yang unggul, disiplin, dan berbudi luhur,” kata Asdar dalam rilis yang diterima redaksi.
Persoalan muncul bukan pada jalannya upacara, melainkan pada absennya kepala daerah yang sebelumnya diharapkan hadir. Bupati Halmahera Tengah berhalangan hadir sehingga tugas pembina upacara akhirnya diambil alih Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Tengah sebagai perwakilan pemerintah daerah.
Bagi sebagian peserta, ketidakhadiran itu bukan sekadar perubahan susunan acara.
Sejumlah anggota Pramuka yang ditemui redaksi dan meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa. Mereka telah mempersiapkan diri dan berharap memperoleh motivasi langsung dari kepala daerah.
“Jujur, kami agak kecewa. Kami sudah sangat berharap Bapak Bupati bisa hadir langsung, melihat kami di sini, dan memberikan motivasi,” ujar seorang peserta.
Kekecewaan itu memperlihatkan satu hal: bagi pelajar, kehadiran pemimpin di tengah kegiatan mereka memiliki makna simbolik. Apalagi Pramuka tidak hanya bicara soal seragam, barisan dan upacara, tetapi juga pembentukan karakter serta kepemimpinan.
Meski demikian, absennya Bupati tidak membuat upacara kehilangan disiplin. Barisan tetap tertata, rangkaian acara berjalan hingga selesai, dan peserta mengikuti prosesi dengan tertib.
Di tengah seremoni Hari Pramuka ke-65, pesan yang tersisa justru cukup sederhana: generasi muda sedang ditempa untuk menjadi pemimpin, tetapi mereka juga membutuhkan pemimpin yang bersedia hadir untuk melihat proses itu dari dekat.
Red/RP













