Essay – reaksipress.com – Di banyak rumah Bugis, nasihat orang tua tidak selalu hadir dalam bentuk ceramah panjang. Kadang ia hanya berupa satu kalimat pendek yang terdengar sederhana.
“Jangan duduk di atas bantal.”
Atau ketika seorang anak hendak duduk di tangga, teguran segera menyusul. Begitu pula ketika seseorang hendak melangkahi orang yang sedang berbaring.
Larangan-larangan semacam itu dikenal dalam kehidupan masyarakat Bugis sebagai pimmali—pantangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di baliknya terdapat kepercayaan mengenai konsekuensi tertentu apabila pantangan dilanggar.
Namun, pimmali tidak selalu sesederhana hubungan antara larangan dan akibat yang dipercaya.
Ia merupakan bagian dari cara masyarakat menyampaikan nasihat, membentuk kebiasaan, menjaga tata krama, dan menanamkan nilai kepada anak-anak. Sebagian pimmali bahkan baru dapat dipahami ketika dilihat dari konteks kehidupan sosial tempat ia tumbuh.
Dalam tradisi lisan, pimmali biasanya disampaikan secara singkat. Anak tidak selalu diberi penjelasan panjang mengenai alasan sebuah larangan.
Yang lebih dulu muncul adalah perintah: jangan.
Jika seseorang duduk di atas bantal, misalnya, dalam kepercayaan yang berkembang di sebagian masyarakat Bugis, ia dapat mengalami bisul pada bagian pantat.
Secara budaya, pesan yang menyertainya dapat dibaca lebih jauh. Bantal bukan sekadar benda yang digunakan untuk tidur. Ia merupakan perlengkapan pribadi yang memiliki fungsi tertentu. Larangan mendudukinya dapat menjadi cara sederhana orang tua mengajarkan anak agar memperlakukan barang sesuai kegunaannya.
Dengan kata lain, konsekuensi yang dipercaya berada di satu sisi, sementara pesan mengenai tata tertib berada di sisi lain.
Pimmali kemudian bekerja sebagai bahasa pendidikan yang mudah diingat.
Anak mungkin lupa penjelasan panjang tentang kebersihan, ketertiban, atau sopan santun. Tetapi ia bisa mengingat sebuah kalimat pendek yang disampaikan orang tuanya sejak kecil.
Pantangan lainnya adalah larangan perempuan duduk di tangga. Dalam kepercayaan yang dituturkan sebagian masyarakat, perempuan yang melakukannya dipercaya akan mengalami kesulitan mendapatkan jodoh.
Kepercayaan tersebut tentu tidak dapat diperlakukan sebagai hubungan sebab-akibat yang terbukti secara ilmiah akan tetapi dari perspektif kebudayaan, larangan itu menarik untuk dibaca.
Tangga merupakan bagian dari jalur keluar-masuk rumah. Duduk di sana dapat mengganggu orang yang hendak lewat. Dalam lingkungan rumah tradisional yang dihuni bersama anggota keluarga, keteraturan ruang memiliki arti penting.
Karena itu, sebuah larangan yang dikaitkan dengan masa depan seseorang dapat berfungsi sebagai cara efektif untuk membuat anak menghindari kebiasaan yang dianggap tidak pantas.
Pimmali dengan demikian tidak selalu harus dibaca hanya dari konsekuensi yang disebutkan. Ia juga dapat dilihat sebagai mekanisme sosial untuk menanamkan perilaku tertentu.
Pimmali lainnya berkaitan dengan orang yang sedang tidur atau berbaring.
Dalam sebagian tradisi lisan Bugis, melangkahi orang yang sedang berbaring dipercaya dapat membawa konsekuensi buruk bagi orang tua, bahkan disebut dapat menyebabkan ibu meninggal.
Konsekuensi tersebut merupakan bagian dari kepercayaan yang diwariskan secara lisan dan tidak dapat diposisikan sebagai fakta medis atau ilmiah.
Namun pesan sosial di balik larangan itu dapat dibaca secara berbeda.
Melangkahi tubuh orang lain merupakan tindakan yang dapat dipandang tidak sopan. Terlebih jika orang tersebut sedang beristirahat. Larangan tersebut secara tidak langsung mengajarkan seorang anak untuk menghormati ruang pribadi orang lain, berhati-hati dalam bergerak, serta menjaga sopan santun terhadap anggota keluarga.
Di sini pimmali menjadi semacam pagar perilaku.
Ia tidak selalu menjelaskan panjang lebar mengapa suatu tindakan dianggap tidak baik. Ia memberi batas yang mudah dipahami anak.
Ada pula pimmali yang terdengar sederhana: larangan makan menggunakan penutup panci.
Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, orang yang melakukannya dipercaya akan mengalami kesulitan bertemu jodoh.
Sekali lagi, konsekuensi tersebut merupakan bagian dari kepercayaan budaya, bukan sesuatu yang dapat dipastikan secara ilmiah.
Yang menarik justru adalah cara sebuah kebiasaan makan diberi makna sosial yang lebih luas.
Peralatan memasak memiliki fungsi masing-masing. Penutup panci digunakan untuk menutup makanan, bukan sebagai alat makan. Menggunakan benda tersebut sebagai alat makan dapat dipandang sebagai perilaku yang tidak lazim atau tidak sesuai dengan tata cara makan yang berlaku dalam keluarga.
Maka, larangan tersebut dapat dibaca sebagai bentuk pendidikan mengenai kepantasan dan keteraturan.
Konsekuensi tentang jodoh membuat larangan itu mudah diingat. Pesan praktisnya mungkin berada pada perilaku yang hendak dibentuk.
Bagi generasi sekarang, sebagian pimmali mungkin terdengar seperti ancaman yang sulit diterima secara rasional.
Tetapi menilai pimmali hanya dari benar atau salahnya konsekuensi yang dipercaya dapat membuat kita kehilangan lapisan kebudayaan yang lebih penting.
Dalam masyarakat tradisional, pengetahuan tidak selalu diwariskan melalui buku. Banyak nasihat berpindah dari orang tua kepada anak melalui cerita, larangan, ungkapan, dan kebiasaan sehari-hari.
Pimmali berada dalam ruang tersebut.
Ia menjadi bagian dari pengetahuan kolektif yang disampaikan secara lisan. Anak mendengarnya dari ibu, ayah, nenek, kakek, atau anggota keluarga lainnya. Setelah dewasa, sebagian dari mereka kemudian mengulanginya kepada generasi berikutnya.
Di situlah pimmali bertahan.
Bukan semata karena masyarakat terus mempercayai konsekuensinya, tetapi juga karena ia menjadi bagian dari ingatan masa kecil dan identitas keluarga.
Modernisasi membuat cara manusia memahami dunia berubah.
Anak-anak sekarang memperoleh pengetahuan dari sekolah, buku, internet, media sosial, dan berbagai sumber lain. Penjelasan tentang kesehatan, keselamatan, dan perilaku sosial dapat diperoleh dengan lebih mudah.
Akibatnya, sebagian pimmali mungkin mulai dipertanyakan.
Pertanyaan seperti “Mengapa tidak boleh?” menjadi lebih sering muncul.
Pertanyaan tersebut tidak selalu berarti penolakan terhadap budaya. Ia dapat menjadi tanda bahwa generasi baru ingin memahami alasan di balik sebuah tradisi.
Di titik inilah pimmali menghadapi tantangan sekaligus peluang.
Pimmali yang hanya diwariskan sebagai larangan tanpa penjelasan berpotensi kehilangan makna di tengah generasi yang terbiasa mencari alasan. Sebaliknya, pimmali dapat tetap hidup apabila nilai yang terkandung di dalamnya mampu diterjemahkan ke dalam konteks kehidupan sekarang.
Larangan duduk di tangga, misalnya, dapat dipahami sebagai pelajaran tentang menjaga akses ruang dan menghormati orang lain. Larangan melangkahi orang yang sedang berbaring dapat dibaca sebagai pendidikan mengenai kesopanan dan kehati-hatian.
Dengan cara demikian, warisan budaya tidak harus dipertentangkan dengan pengetahuan modern.
Pimmali juga memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun cara sendiri untuk mendidik anak.
Pada zamannya, sebuah konsekuensi yang mengandung rasa takut mungkin menjadi cara efektif agar sebuah nasihat dipatuhi. Ketika konteks sosial berubah, generasi baru mungkin membutuhkan penjelasan yang berbeda.
Yang dapat diwariskan bukan semata rasa takut terhadap akibat sebuah pantangan, melainkan nilai yang berada di baliknya.
Sebab kebudayaan tidak hanya hidup dalam benda-benda lama atau upacara adat. Ia juga hidup dalam kalimat sederhana yang berulang di ruang keluarga.
“Jangan begitu.”
“Tidak boleh.”
“Pimmali.”
Kalimat-kalimat pendek itu mungkin terdengar biasa. Namun di dalamnya tersimpan cara sebuah generasi berbicara kepada generasi berikutnya.
Pimmali akhirnya bukan hanya tentang pantangan. Ia adalah rekaman kecil tentang bagaimana orang tua Bugis memandang kepantasan, keteraturan, penghormatan, dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian mungkin akan bertahan. Sebagian lainnya bisa berubah makna. Bahkan mungkin ada yang perlahan menghilang.
Tetapi selama masih ada orang yang mengingat dan menceritakannya, pimmali tetap menjadi bagian dari percakapan tentang siapa masyarakat Bugis dan bagaimana mereka mewariskan nilai kepada anak-anaknya.
Sebab terkadang, sebuah kebudayaan tidak diwariskan melalui pidato panjang. Ia cukup dimulai dari sebuah teguran kecil di rumah.













