Feature – reaksipress.com – Ma,baca dalam terjemahan sederhana Adalah ‘membaca’ tapi dalam Tradisi mabbaca atau mabbaca-baca merupakan salah satu manifestasi kebudayaan masyarakat Bugis-Makassar yang mempertemukan ruang spiritual, interaksi sosial, serta penghormatan terhadap leluhur, dimana ada laku merapal do’a dengan kappara (nampang) berisi aneka kue dan makanan -kadang juga menggunakan bosara –
Berdasarkan tutur Sejarah dan literatur, Asal-usul ritual ini berakar dari kepercayaan era Pra-Islam (kepercayaan terhadap Dewata Seuwae dan tradisi menolak bala), yang kemudian mengalami transformasi mendasar seiring masuknya syiar Islam di tanah Sulawesi Selatan pada abad ke-17.
Tokoh-tokoh penyebar Islam, seperti Dato ri Bandang, Dato ri Pattimang, dan Dato ri Tiro, menggunakan pendekatan akulturasi budaya. Praktik persembahan awal yang mulanya ditujukan kepada roh leluhur dialihkan fokus tauhidnya: hidangan tetap disajikan, tetapi niat dan doa-doanya diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT melalui selawat dan pembacaan ayat Al-Qur’an.
Prosesi mabbaca diawali dengan persiapan hidangan yang disusun rapi di atas kappara (wadah khas bebentuk bundar biasanya terbuat dari anyaman atau seng) dan ditata melingkar di tengah ruangan.
Pelaku utama dalam ritual ini adalah keluarga penyelenggara hajatan, sementara pemuka yang memimpin jalan doa umumnya adalah seorang Anreguru, Imam Kampung, atau Puang Pabbaca (tokoh agama/adat setempat).
Pemuka adat ini memimpin pembacaan Surah Al-Fatihah, ayat-ayat pilihan, doa selamat, serta permohonan ampunan bagi para leluhur (mampasituru). Setelah pembacaan doa selesai, acara dilanjutkan dengan sipakatau dan sipakalebbi melalui makan bersama seluruh tamu yang hadir, membagikan hidangan kepada tetangga, atau membawa pulang sokko sebagai bentuk berkah.
Setiap elemen makanan dan kue tradisional yang tersaji dalam mabbaca mengandung makna simbolik serta filosofi kehidupan yang mendalam.
Semisal Sokko (Ketan) dan Tuba (Pati), Ketan putih atau hitam melambangkan eratnya tali persaudaraan dan persatuan keluarga yang tidak mudah terpecah belah (siamase-maseI). Onde-Onde (Golla Caddi), Bentuknya yang bulat dengan isian gula merah cair melambangkan kebulatan tekad, kesucian hati, serta harapan agar kehidupan terasa manis dan harmonis.
Ada juga Barongko, Makanan berbahan pisang dan telur yang dibungkus daun pisang ini melambangkan kejujuran dan keselarasan antara apa yang ada di dalam hati dengan apa yang diucapkan di luar (pau sining ati). Cucuru,Teksturnya yang mengembang dan legit melambangkan kemakmuran, rezeki yang terus mengalir, serta rasa syukur atas kelimpahan hidup.
Selain kue biasanya juga dihidangkan makanan seperti Nasu Likku / Nasu Palekko, sebuah Olahan ayam atau daging dengan bumbu rempah khas melambangkan kehangatan rumah tangga dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup.
Dan selalu hadir Pisang Raja dan Kelapa, yang memanipestasikan kepemimpinan yang baik, pertumbuhan, serta kemanfaatan hidup bagi lingkungan sekitar dari akar hingga buahnya.
Nilai-nilai utama yang terkandung dalam mabbaca hakikatnya mencakup nilai tauhid dan spiritualitas, nilai kegotongroyongan (siamasei), serta nilai penghormatan terhadap orang tua dan para pendahulu (makkasawi).
Akulturasi budaya Islam dan lokal terlihat sangat padat dalam susunan strukturnya: wadah, jenis hidangan, dan tata cara duduk lesehan mempertahankan estetika adat Bugis-Makassar, sedangkan substansi doa, niat, dan bacaannya mengakar kuat pada ajaran tauhid Islam.
mabbaca sendiri berfungsi sebagai perekat silaturahmi antarwarga, penjaga ketahanan pangan lokal melalui pelestarian kuliner tradisional, serta media transmisi nilai-nilai moral lintas generasi.
Mengenai ruang mistis yang biasa hadir, sebagian masyarakat tradisional masih meyakini adanya dimensi gaib, seperti anggapan bahwa aroma kemenyan (sio-sio) atau asap doa menjadi perantara sampainya rasa ingat anak-cucu kepada ruh para leluhur.
Meski demikian, dalam pandangan keagamaan yang moderat saat ini, aspek tersebut lebih dimaknai sebagai simbol pengingat akan kematian dan bentuk penghormatan moral agar generasi penerus senantiasa mendoakan keselamatan orang tua yang telah mendahului mereka.
Pemahaman dan pengenalan nilai-nilai kepada generasi diharapkan menjadi pemertahanan budaya dari gerusan zaman dan teknologi, sehingga adat, budaya, dan agama bisa tetap bersanding asri dengan serasi dan tetap lestari.
Penulis : Redaksi













