Bone – reaksipress.com – Haul ke-312 Lapatau Matanna Tikka di Bone tahun ini tidak berhenti pada seremoni mengenang tokoh sejarah. Momentum tersebut sekaligus membuka kembali persoalan penting: bagaimana warisan arsip Kerajaan Bone diselamatkan, diterbitkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hal itu mengemuka dalam Haul ke-312 Lapatau Matanna Tikka yang dirangkaikan dengan Silaturahmi Nasional dan Pelantikan Pengurus Perkumpulan Wija Raja Lapatau Matanna Tikka (PERWIRA-LPMT) periode 2026–2031 di Aula Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif, Jumat (25/9/2026).
Salah satu agenda penting adalah penyerahan dua jilid Catatan Harian Raja Bone XXIII, La Tenri Tappu, Sultan Ahmad Saleh Syamsuddin, kepada Pemerintah Kabupaten Bone.
Jilid pertama memuat catatan Januari 1775 hingga Desember 1785, sedangkan jilid kedua mencakup Januari 1786 hingga Desember 1795. Alih aksara dan terjemahan dikerjakan Andi Sofyan Hady, dengan Muhammad Sapri Andi Pamulu, Ph.D., sebagai editor.
Dokumen tersebut menjadi bagian dari upaya lebih besar mendokumentasikan sejarah Bone. Ketua Umum PERWIRA-LPMT, Andi Muhammad Sapri Pamulu, menyebut terdapat 18 buku harian atau catatan penting Kerajaan Bone yang mencakup periode 1660 hingga 1910.
Namun, baru lima buku yang telah diterbitkan. Empat di antaranya mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Bone dan satu lainnya dibantu Pemerintah Kabupaten Soppeng.
Seluruh catatan itu direncanakan dihimpun dalam Bone Annals, sebagai dokumentasi sejarah yang dapat digunakan generasi mendatang.
Di titik inilah Haul Lapatau tahun ini memiliki dimensi yang lebih luas. Persoalannya bukan sekadar bagaimana sejarah dikenang dalam sebuah seremoni, tetapi bagaimana sumber sejarah tersebut tersedia dan dapat dikaji secara lebih luas.
Sapri menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah, terutama untuk pendanaan penerbitan arsip, dokumentasi adat istiadat, dan kajian sejarah.
Jejaring pelestarian juga diarahkan lebih jauh. PERWIRA-LPMT mendorong penelusuran arsip sejarah Bone yang tersimpan di Belanda dan Inggris, sekaligus memperluas kerja sama kebudayaan hingga tingkat nasional dan internasional.
Sementara itu, Wakil Bupati Bone Andi Akmal Pasluddin mengatakan Haul ke-312 Lapatau Matanna Tikka tidak sekadar menjadi kegiatan mengenang tokoh sejarah.
“Melalui kegiatan haul dan silaturahmi nasional ini, kita tidak hanya mengenang jasa dan perjuangan Lapatau Matanna Tikka, tetapi juga menjadikan nilai-nilai luhur yang diwariskannya sebagai inspirasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat,” ujar Andi Akmal.
Menurut dia, generasi muda Bone perlu memahami akar sejarah dan kebudayaannya. Pemahaman tersebut, katanya, dapat menjadi modal untuk membangun masa depan sekaligus memperkuat posisi Bone dalam pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan budaya.
Pesan itu berlangsung bersamaan dengan Festival Gau Maraja 2026 yang digelar 25–30 September. Pemerintah Kabupaten Bone sebelumnya menyebut festival tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal, pengembangan budaya, dan pariwisata.
Dalam acara tersebut, Andi Akmal juga mengaitkan pelestarian budaya dengan agenda pembangunan daerah. Ia menyampaikan sejumlah capaian dan rencana pemerintah, antara lain perbaikan sekitar 371 kilometer jalan, pertumbuhan ekonomi Bone sebesar 7,84 persen pada triwulan I 2026, serta sejumlah proyek strategis.
Data pertumbuhan ekonomi 7,84 persen pada triwulan I 2026 juga telah diberitakan berdasarkan data BPS.
Sejumlah rencana yang disebut dalam sambutan tersebut antara lain perpanjangan landasan Bandara Arung Palakka dari 1.400 meter menjadi 2.500 meter, pembangunan Pelabuhan Tondong dengan nilai investasi sekitar Rp1,7 triliun, pembangunan SMA Taruna, sekolah KKSS dan Sekolah Rakyat di Bajoe dengan anggaran sekitar Rp257 miliar, serta rencana hilirisasi ayam terintegrasi bersama PTPN dengan nilai investasi sekitar Rp1,2 triliun.
Namun, angka investasi dan status pelaksanaan proyek-proyek tersebut dalam bahan acara merupakan paparan pemerintah daerah. Masing-masing masih perlu ditelusuri melalui dokumen perencanaan, kontrak, sumber pendanaan, serta tahapan pelaksanaan apabila hendak dijadikan fokus pemberitaan tersendiri.
Bagi Andi Akmal, pembangunan tersebut harus berjalan bersama pelestarian identitas daerah. Ia mengingatkan kembali falsafah Bugis mali siparappe, tappa sipatokong, dan malilu sipakainge sebagai nilai untuk saling membantu, menopang, dan mengingatkan.
Sementara bagi PERWIRA-LPMT, pekerjaan pelestarian masih panjang. Dari 18 catatan kerajaan yang disebut mencakup rentang 1660–1910, baru lima yang telah diterbitkan. Selebihnya masih menunggu proses penerjemahan, penerbitan, pendanaan, dan dokumentasi.
Karena itu, penyerahan dua jilid catatan harian Raja Bone XXIII pada Haul ke-312 bukan hanya simbol penghormatan terhadap masa lalu. Dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian sejarah Bone masih berada dalam proses untuk dihadirkan kembali kepada publik.
Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng—mencari kebaikan dan kembali menghadirkan kebaikan—menjadi tema haul tahun ini. Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat tersebut tidak berhenti di panggung acara, tetapi berlanjut menjadi kerja dokumentasi sejarah yang dapat diakses dan dipelajari generasi berikutnya.













